Responsive image

News

Keripik Singkong Dosroha: Berbisnis dan Berbagi Ilmu

28 Jan 2021

Lumban Lintong, Toba – August Samosir adalah salah satu pegiat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) binaan PT INALUM (Persero) yang terdampak wabah Covid-19. Berlatar belakang sebagai petani, ia membuka pintu penghidupan baru melalui usaha keripik singkongnya pada 2013. Usahanya saat ini tetap bertahan dan berjalan meskipun diterjang ketidakpastian pandemi Covid-19.

Produksi keripik singkong August Samosir selama pandemi mengalami penurunan sekitar 30%, yang tadinya tiga ton atau sekitar 900 pak perbulannya menjadi satu ton atau 300 pak setiap bulan. Penurunan produksi ini berdampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja dari tujuh orang kini hanya tinggal lima orang.

August menjual keripik singkong dalam kemasan kecil dengan harga ekonomis yang ditujukan untuk anak sekolah dan warung-warung di Toba. Tidak dapat dihindari, penjualan keripik singkong pun menurun, khususnya penjualan di kantin-kantin sekolahan, akibat pandemi. Meskipun begitu, nama keripik Dosroha ini masih mentereng di berbagai warung, kantor, atau pun puskesmas di daerah Toba.

Usaha keripik singkong milik August Samosir terdiri dari tiga varian rasa, yaitu original, pedas dan andaliman. Usahanya ini ia beri nama Dosroha. Dalam bahasa Batak, Dosroha berarti sehati dan sepikiran. Harapannya, Keripik Dosroha mampu berjalan dengan lancar dan sukses karena nama Dosroha adalah doa dan upaya untuk menyatukan hati dan pikiran para pekerja yang merupakan anggota keluarga besarnya sendiri.

Selain memproduksi keripik singkong, August sembari bertani juga kerap mengikuti dan mengisi pelatihan mengenai pertanian. Semua bahan yang digunakan dalam pembuatan keripik singkong ia upayakan berasal dari ladangnya sendiri, seperti ubi beserta cabai untuk varian singkong pedas.

Sebelum bergelut di usaha keripik singkong, August pernah menjual ubi ke produsen tapioka namun penjualannya terkendala. Melihat peluang besar, ia kemudian memutuskan untuk merintis usaha keripik singkong dan langsung melakukan survei ke warung-warung. Beragam uji coba dan evaluasi dilakukannya untuk menghasilkan produk keripik yang lebih baik. Hasil keripik uji cobanya ia bagikan ke beberapa orang yang bersedia memberikan testimoni dan masukan untuk keripik singkongnya.

“Kita survei ke warung, memang sudah ada yang menjual keripik singkong, tapi belum banyak. Jadi, beberapa kali kita uji coba membuat keripik. Dahulu, membuatnya pun menggunakan alat-alat manual sederhana. Lalu, kita minta pendapat orang lain mengenai rasa dan kegurihannya. Setelah oke, kita pasarkan,” ucap August.

Tidak hanya fokus memproduksi keripik, ia juga aktif mengikuti kegiatan kompetisi. Pada 2018, ia mengikuti dan memenangkan Lomba Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) dan meraih juara 1 tingkat Kabupaten Toba dan juara 3 tingkat Provinsi Sumatera Utara. Ia juga telah memiliki beberapa sertifikat, salah satunya adalah Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga dari Dinas Kesehatan Kabupaten Toba.

Pembelajaran dan pencapaiannya di usaha keripik singkong selama tujuh tahun ini dapat ditiru oleh pengusaha-pengusaha baru. Pemilik Keripik Dosroha ini pun menyampaikan bahwa ia tidak keberatan mengajari orang-orang yang ingin tahu dan belajar membuat keripik singkong.

“Beberapa kali pernah orang datang dan minta diajari cara membuat keripik singkong. Ya, kita ajarin, diantara mereka sekarang bahkan sudah ada yang membuka usaha keripik singkongnya sendiri. Nggak ada rasa takut tersaingi karena kami juga nggak bisa memenuhi semua permintaan keripik di wilayah Toba,” ujar August.

Ia menjadi UMKM Binaan PT INALUM (Persero) sejak tahun 2018. Bantuan pinjaman modal sebesar Rp. 30.000.000 dengan biaya administrasi 3% digunakannya untuk ongkos produksi dan ternak unggas. Ia mengatakan bahwa ia telah merasakan manfaat bermitra dengan Inalum. Sebelumnya, alat produksi Keripik Dosroha belum lengkap dan omzet yang ia terima sebesar Rp10.000.000/bulan. Setelah bermitra, ia melengkapi alat produksinya dan mendapatkan omzet dua kali lipat dari sebelumnya, yaitu sebesar Rp. 20.000.000/bulan. Namun saat pandemi, omzetnya turun menjadi Rp. 13.000.000/bulan.

Selain omzet, manfaat lain yang ia rasakan adalah mendapatkan pinjaman dengan biaya administrasi yang ringan, relasi yang luas, dan pelatihan-pelatihan yang dapat mengembangkan kemampuan dalam berwirausaha.

“Pertama, teman pelaku UMKM dari kabupaten lain bertambah. Kedua, Inalum mengadakan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mitranya, seperti pelatihan mengenai penggunaan Google Bussiness untuk penjualan produk secara online. Selama pandemi pun, Inalum banyak memesan keripik singkong kami,” kata August.